Thursday, March 21, 2013

Makalah Akhlak dan Tasawuf


BAB I
PENDAHULUAN

Ajaran islam adalah ajaran yang bersumber pada wahyu Allah, Al-Qur'an dalam penjabarannya terdapat pada hadis Nabi Muhammad SAW. Masalah akhlak dalam Islam mendapat perhatian yang sangat besar. Berdasarkan bahasa, akhlak berarti sifat atau kebiasaan.
Berdasarkan istilah, akhlak berarti kelompok sifat yg dimiliki oleh seseorang yang melahirkan perbuatan baik dan buruk.
Konsep Akhlak menurut Al-Ghazali adalah sifat yg tertanam dalam jiwa seseorang, darinya lahir perbuatan yang mudah tanpa pertimbangan pikiran terlebih dahulu. Akhlak meliputi jangkauan yang sangat luas dalam segala aspek kehidupan. Akhlak meliputi hubungan hamba dengan Tuhannya (vertikal) dalam bentuk ritual keagamaan dan berbentuk pergaulan sesama manusia (horizontal) dan juga sifat dan sikap yang terpantul terhadap semua makhluk (alam semesta).
Bagi seorang muslim, akhlak yang terbaik adalah seperti yang ada pada diri Nabi Muhammad SAW karena sifat-sifat dan perangai yang ada pada dirinya dalah sifat-sifat yang terpuji dan merupakan uswatun hasanah (contoh teladan) terbaik untuk seluruh kaum Muslimin.




BAB II PEMBAHASAN

A.    Pengertian Akhlak:
Secara bahasa akhlak berasal dari kata اخلق - يخلق - اخلاقا artinya perangai, kebiasaan, karakter, peradaban yang baik, agama. Kata akhlak sama dengan kata khuluq. Dasarnya adalah:
  1. QS. Al-Qalam: 4: وانك لعلى خلق عظيم
  2. QS. Asy-Syu'ara: 137: ان هذا الا خلق الاولين
  3. Hadis: انما بعثت لاتمم مكارم الاخلاق
Menurut istilah, beberapa ahli menjelaskan pengertin akhlak
  1. Imam Al-Ghazali menyebut akhlak adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa. Dari jiwa itu, timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa melakukan pertimbangan pikiran.
  2. Prof. Dr. Ahmad Amin menentukan akhlak sebagai kehendak yang dibiasakan.Maksudnya, sesuatu yang mencirikan akhlak itu adalah kehendak yang dibiasakan. Artinya, kehendak itu apabila membiasakan sesuatu, maka kebiasaan itu dinamakan akhlak. Ahmad Amin menjelaskan arti kehendak itu adalah ketentuan dari beberapa keinginan manusia. Sedangkan kebiasaan pula adalah perbuatan yang diulang-ulang sehingga mudah memainkannya.Dari kehendak dan kebiasaan ini memiliki kekuatan ke arah menimbulkan apa yang disebut sebagai akhlak.
  3. Ibnu Maskawayh mengatakan akhlak adalah suatu kondisi untuk diri atau jiwa yang mendorong (diri atau jiwa itu) untuk melakukan perbuatan dengan senang tanpa didahului oleh daya pemikiran karena sudah menjadi kebiasaan.
1.      Ciri-Ciri Akhlak
a)      Perbuatan itu sudah menjadi kebiasaan sehingga telah menjadi kepribadiannya.
b)      Perbuatan itu adalah dilakukan tanpa didahului oleh pertimbangan.
c)      Perbuatan itu timbul dari dorongan hati atau keinginan hati, bukan karena terpaksa.
d)     Perbuatan itu dilakukan dengan sesungguhnya hati, bukan sekadar bercanda dan kajian ilmiah.
e)      Perbuatan itu dilakukan dengan ikhlas ( untuk perbutan baik).
f)       Tidak merasa bersalah atau malu setelah melakukannya, karena sudah menjadi kebiasaan sehari-sehari.


Ada empat hal yang harus ada apabila seseorang ingin dikatakan berakhlak.
1)      Perbuatan yang baik atau buruk.
2)      Kemampuan melakukan perbuatan.
3)      Kesadaran akan perbuatan itu
4)      Kondisi jiwa yang membuat cenderung melakukan perbuatan baik atau buruk
2.      Ilmu Akhlak
Ilmu akhlak yaitu telaah atas prilaku manusia sebagaimana mestinya. Di sini ilmu akhlak berfungsi sebagai sarana untuk menyempurnakan prilaku manusia dan menyodorkan kebaikan.
Secara lebih komprehensif, ilmu akhlak bisa didefinisikan sebagai pengetahuan tentang macam-macam sifat baik dan buruk, cara menyandang sifat baik dan membersihkan sifat buruk. Dan, subjek ilmu akhlak yaitu sifat-siaft baik dan buruk yang berkaitan dengan tindakan sengaja manusia, dan yang bisa diperoleh atau dihindari. Selain pengenalan atas berbagai macam kemualiaan dan kebejatan akhlak, ilmu akhlak juga membahas metode-metode menemukan sifat baik dan membersihkan sifat buruk. Naraqi menyimpulkan bahwa ilmu akhlak yaitu pengetahuan tentang sifat-sifat baik dan buruk dan tentang cara mendapatkan sifat baik serta membebaskan diri dari sifat buruk.
3.      Ruang Lingkup Akhlak
a.       Akhlak Mahmudah (Terpuji)
Akhlak mahmudah adalah perbuatan yang diizinkan oleh agama (Allah dan RasulNya). Misalnya: disiplin , hidup bersih , ramah, sopan-santun, syukur nikmat, hidup sederhana, rendah hati, jujur, rajin, percaya diri, kasih sayang, taat, rukun, tolong-menolong, hormat dan patuh, sidik, amanah, tablig, Fathanah, tanggung jawab, adil, bijaksana, teguh pendirian, dermawan, optimis, qana'ah, dan tawakal, ber-tauhiid, Ikhlash, khauf, taubat, Ikhtiyaar, shabar, syukur, tawaadu ', husnuzh-zhan, tasaamuh dan ta' aawun, berilmu, kreatif, produktif, akhlak dalam berpakaian, berhias, perjalanan, bertamu dan menerima tamu, adil, rida, amal salih, persatuan dan kerukunan, akhlak terpuji dalam pergaulan remaja, serta pengenalan tentang tasawuf.

Dalam pembahasan ini kami akan menjabarkan akhlak mahmudah yang meliputi ikhlas, sabar, syukur, jujur, adil dan amanah.
1)      Ikhlas
Kata ikhlas memiliki beberapa pengertian. Menurut al-Qurtubi, ikhlas pada dasarnya berarti memurnikan perbuatan dari pengaruh-pengaruh makhluk. Abu Al-Qasim Al-Qusyairi mengemukakan arti ikhlas dengan menampilkan sebuah riwayat dari Nabi Saw, "Aku pernah bertanya kepada Jibril tentang ikhlas. Lalu Jibril berkata, "Aku telah menanyakan hal itu kepada Allah," lalu Allah berfirman, "(Ikhlas) adalah salah satu dari rahasiaku yang Aku berikan ke dalam hati orang-orang yang kucintai dari kalangan hamba-hamba-Ku."
2)      Amanah
Secara bahasa amanah berarti al-wafa '(memenuhi) dan Wadi'ah (titipan) sedangkan secara definisi amanah berarti memenuhi apa yang dititipkankan kepadanya. Hal ini didasarkan pada firman Allah SWT: "Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk mengembalikan titipan-titipan kepada yang memilikinya, dan jika menghukumi diantara manusia agar menghukumi dengan adil ..." (QS 4:58).
Dalam ayat lainnya, Allah juga berfirman: "Sesungguhnya Kami telah memberikan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka mereka semua enggan memikulnya karena mereka khawatir akan mengkhianatinya, maka dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan bodoh ... "(QS. 33:72).
3)      Adil
Adil berarti menempatkan / meletakan sesuatu pada tempatnya. Adil juga tidak lain adalah berupa perbuatan yang tidak berat sebelah. Para Ulama menempatkan adil pada beberapa tingkat, yaitu adil terhadap diri sendiri, bawahan, atasan / pimpinan dan sesama saudara. Nabi Saw bersabda, "Tiga hal yang menyelamatkan yaitu takut kepada Allah ketika bersendiriaan dan di muka umum, berlaku adil pada saat suka dan marah, dan mengurangi kemewahan ketika susah dan senang; dan tiga hal yang membinasakan yaitu mengikuti hawa nafsu, terlampau bakhil, dan kagum seseorang dengan dirinya sendiri. "(HR. AbuSyeikh).
4)      Bersyukur
Syukur menurut kamus "Al-mu'jamu al-Wasith" adalah mengakui adanya kenikmatan dan menampakkannya serta memuji (atas) pemberian nikmat tersebut.Sedangkan makna syukur secara syar'i adalah: Menggunakan nikmat AllahSWT dalam (ruang lingkup) hal-hal yang dicintainya . Lawannya syukur adalah kufur.Yaitu dengan cara tidak memanfaatkan nikmat tersebut, atau menggunakannya pada hal-hal yang dibenci oleh Allah SWT.

b.       Akhlak Mazmumah (Tercela)
Akhlak Mazmumah (tercela) adalah perbuatan yang tidak dibenarkan oleh agama (Allah dan RasulNya). Misalnya: hidup kotor, berbicara jorok / kasar, bohong, sombong, malas, durhaka, khianat, iri, dengki, membangkang, munafik, hasud, kikir, serakah, pesimis, putus asa, marah, fasik, dan murtad, kafir, syirik, riya, nifaaq, anaaniah, putus asa, ghadlab, tamak, takabbur, hasad, dendam, giibah, fitnah , dan namiimah, aniaya dan diskriminasi, perbuatan dosa besar (seperti mabuk-mabukan, berjudi, zina, mencuri, mengkonsumsi narkoba), israaf , tabdzir.
Dalam konteks pembahasan Akhlak itu,  maka akhlak dapat di bagi ke 3 (tiga) bagian yaitu:
1)      Akhlak kepada Allah SWT
Akhlak kepada Allah adalah perbuatan Nya terhadap Allah SWT.
2)      Akhlak kepada MakhlukNya
Akhlak kepada MakhlukNya adalah perbuatan Nya terhadap makhluk Allah, seperti Malaikat, Jin, Manusia, dan Hewan.
3)      Akhlak kepada Lingkungan
Akhlak kepada lingkungan adalah perbuatan Nya terhadap lingkungan (semesta alam), seperti: tanaman, air (laut, sungai, danau), gunung, dan sebagainya.

Contoh Sifat Mazmumah (Tercela) yaitu:
a)      Penyakit hati antara lain disebabkan karena ada perasaan iri:
Iri adalah sikap kurang senang melihat orang lain mendapat kebaikan atau keberuntungan. Sikap ini kemudian menimbulkan prilaku yang tidak baik terhadap orang lain, misalnya sikap tidak senang, sikap tidak ramah terhadap orang yang kepadanya kita iri atau menyebarkan isu-isu yang tidak baik. Jika perasaan ini dibiarkan tumbuh didalam hati, maka akan muncul perselisihan, permusuhan, pertengkaran, bahkan sampai pembunuhan, seperti yang terjadi pada kisah Qabil dan Habil.
b)      Penyakit hati disebabkan karena perasaan dengki.
Dengki artinya merasa tidak senang jika orang lain mendapatkan kenikmatan dan berusaha agar kenikmatan tersebut cepat berakhir dan berpindah kepada dirinya, serta merasa senang kalau orang lain mendapat musibah. Sifat dengki ini terkait dengan sifat iri. Hanya saja sifat dengki sudah dalam bentuk perbuatan yang berupa kemarahan, permusuhan, menjelek-jelekkan, menjatuhkan nama baik orang lain.
c)      Hasud
Hasud adalah sikap suka menghasud dan mengadu domba terhadap sesama. Menghasud adalah tindakan yang jahat dan menyesatkan, karena mencemarkan nama baik dan merendahkan derajat seseorang dan juga karena mempublikasikan hal-hal jelek yang sebenarnya harus ditutupi. Saudaraku (sidang pembaca) tahukah antum, bahwa iri, dengki dan hasud itu adalah suatu penyakit. Awalnya iri yaitu perasaan tidak suka terhadap kenikmatan yang dimiliki orang lain. Kemudian, jika dibiarkan tumbuh, iri hati akan berubah menjadi kedengkian. Penyakit kedengkian jika dibiarkan terus akan berubah menjadi penyakit yang lebih buruk lagi, yaitu hasud.

4.      Manfaat Mempelajari Ilmu Akhlak
Ø  Membersihkan kalbu dari kotoran hawa nafsu dan amarah sehingga hati menjadi suci dan bersih.
Ø  Memiliki pengetahuan tentang kriteria perbuatan baik dan buruk.
Ø  Membersihkan diri manusia dari perbuatan dosa dan maksiat
Ø  Menetapkan perbuatan sebagai perbuatan baik dan buruk
B.     Pengertian Tasawuf:
Secara bahasa tasawuf berarti: 
Ø  shaf (baris), sufi (suci), sophos (Yunani: hikmah), suf (kain wol) 
Ø  sikap mental yang selalu memelihara kesucian diri, beribadah, hidup sederhana, rela berkorban untuk kebaikan dan bersikap bijaksana.
Menurut Istilah: 
Ø  Upaya mensucikan diri dengan cara menjauhkan pengaruh kehidupan dunia dan memusatkan perhatian hanya kepada Allah Swt. 
Ø  Kegiatan yang terkait dengan pembangunan mental ruhaniah agar selalu dekat dengan Tuhan.

Sumber Ajaran Tasawuf:
  1. Unsur Islam:
·         Al-Qur'an mengajarkan manusia untuk: mencintai Tuhan (QS. Al-Maidah: 54),
·         Bertaubah dan mensucikan diri (QS> At-Tahrim: 8),
·         Manusia selalu dalam pandangan Allah dimana saja (QS. Al-Baqarah: 110 ),
·         Tuhan memberi cahaya kepada HambaNya (QS. An-Nur: 35),
·         Sabar dalam bertaqarrub kepada Allah (QS. Ali Imran: 3)
·         Hadis Nabi seperti tentang rahasia penciptaan alam adalah agar manusia mengenal penciptanya.
·         Praktek para sahabat seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar Ibn Khattab, Utsman Ibn Affan, Ali Ibn Abi Thalib, Abu Dzar Al-Ghiffari, Hasan Basri, dll.

  1. Unsur Non Islam:
·         Nasrani: Cara kependetaan dalam hal latihan jiwa dan ibadah.
·         Yunani: Unsur filsafat tentang masalah ketuhanan.
·         Hindu / Budha: mujahadah, perpindahan roh dari satu badan ke badan yang lain.


C.     Hubungan Akhlak dengan Tasawuf:
Akhlak dan Tasawuf saling berkaitan. Akhlak dalam pelaksanaannya mengatur hubungan horizontal antara sesama manusia, sedangkan tasawuf mengatur jalinan komunikasi vertical antara manusia dengan Tuhannya. Akhlak menjadi dasar dari pelaksanaan tasawuf, sehingga dalam prakteknya tasawuf mementingkan akhlak.



DAFTAR PUSTAKA
Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1996.
Amin, Ahmad, Etika (Ilmu Akhlak), (Terj), Farid M'aruf, dari judul asli al-Akhlak, Jakarta: Bulang Bintang, 1983.