Showing posts with label Pertanian. Show all posts
Showing posts with label Pertanian. Show all posts

Monday, December 16, 2013

Budidaya Jamur Tiram

Bab I
Pendahuluan

Latar Belakang
Jamur tiram dapat tumbuh dan berkembang dalam media yang terbuat dari serbuk kayu yang dikemas dalam kantong plastic. Pertumbuhan jamur tiram sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, kita harus mengetahui mengenai kondisi yang cocok untuk pertumbuhannya sebelum kita melakukan budidaya jamur tiram.
Pada kehidupan alaminya jamur ini tumbuh di hutan dan biasanya tumbuh berkembang dibawah pohon berdaun le bar atau dibawah tanaman berkayu. Jamur Pleurotus ini tidak memerlukan cahaya matahari yang banyak .
Dari hasil penelitian diperoleh bahwa miselium yang disimpan di tempat yang redup, jumlahnya lebih banyak disbanding di temapat yang terang dari cahaya matahari yang penuh. Miselium adalah jaringan yang didalamnya kumpulan dari hifa jamur. Miselium dapat tumbuh pada sel dinding kayu dengan melakukan penetrasi pada dinding sel kayu dengan cara melubanginya. Proses penetrasi dinding sel kayu dibantu oleh enzim pemecah selulosa, hemiselulosa, dan lignin yang dihasilkan oleh jamur melalui ujung benang-benang miselium. Enzim tersebut mencerna senyawa kayu sekaligus memanfaatkannya sebagai sumber (zat) makanan.



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Persiapan dan Syarat Tumbuh
1.    Persiapan Penanaman Jamur Tiram
Sebelum melakukan penanaman, hal-hal yang menunjang budidaya jamur tiram harus sudah tersedia, diantaranya rumah kumbung baglog, rak baglog, bibit jamur tiram, dan peralatan budidaya. Usahakan budidaya jamur tiram menggunakan bibit bersertifikat yang dapat dibeli dari petani lain atau dinas pertanian setempat. Peralatan budidaya jamur tiram cukup sederhana, harga terjangkau, bahkan kita bisa memanfaat peralatan dapur.
Untuk mengoptimalkan hasil dalam usaha budidaya jamur tiram di dataran rendah dapat dilakukan dengan modifikasi terhadap bahan media dan takarannya, yakni dengan menambah atau mengurangi takaran tiap-tiap bahan dari standar umumnya. Dalam usaha skala kecil, eksperimen dalam menentukan takaran bahan media merupakan hal yang sangat penting guna memperoleh takaran yang pas. Hal ini mengingat jamur yang dibudidayakan di lingkungan tumbuh berbeda tentu membutuhkan nutrisi dan media yang berbeda pula tergantung pada kondisi lingkungan setempat. Hingga saat ini belum ada standar komposisi media untuk budidaya jamur tiram di dataran rendah, sehingga petani memodifikasi media dan lingkungan berdasarkan pengalaman dan kondisi masing-masing.
Sebagai media tumbuh jamur tiram, serbuk gergaji berfungsi sebagai penyedia nutrisi bagi jamur. Kayu yang digunakan sebaiknya kayu keras karena serbuk gergaji kayu jenis tersebut sangat berpotensi dalam meningkatkan hasil panen jamur tiram.  Hal ini karena kayu keras banyak mengandung selulosa yang dibutuhkan oleh jamur. Jenis-jenis kayu keras yang bisa digunakan sebagai media tanam jamur tiram antara lain sengon, kayu kampung, dan kayu mahoni. Untuk mendapatkan serbuk kayu pembudidaya harus memperolehnya ditempat penggergajian kayu. Sebelum digunakan sebagai media biasanya sebuk kayu harus dikompos terlebih dahulu agar bisa terurai menjadi senyawa yang lebih sederhana sehingga mudah dicerna oleh jamur. Proses pengomposan serbuk kayu dilakukan dengan cara menutupnya menggunakan plastik atau terpal selama 1-2 hari. Pengomposan berlangsung dengan baik jika terjadi kenaikan suhu sekitar 50 derajat C.
Alternatif bahan yang bisa digunakan untuk mengganti serbuk kayu adalah berbagai macam ampas, misal ampas kopi, ampas kertas, ampas tebu, dan ampas teh. Namun, berdasarkan pengalaman petani jamur tiram di dataran rendah, media yang baik untuk digunakan tetap serbuk gergaji kayu.
Media berupa dedak/bekatul dan tepung jagung berfungsi sebagai substrat dan penghasil kalori untuk pertumbuhan jamur. Sebelum membeli dedak dan tepung jagung, sebaiknya pastikan dahulu bahan-bahan tersebut masih baru. Jika memakai bahan yang sudah lama dikhawatirkan sudah terjadi fermentasi yang dapat berakibat pada tumbuhnya jenis jamur yang tidak dikehendaki. Berdasarkan hasil penelitian, penggunaan dedak maupun teung jagung memberikan kualitas hasil jamur yang sama karena kandungan nutrisi kedua bahan tersebut mirip. Namun, penggunaan dedak dianggap lebih efisien karena bisa memangkas biaya dan cenderung mudah dicari karena banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Kapur (CaCo3) berfungsi sebagai sumber mineral dan pengatur pH. Kandungan Ca dalam kapur dapat menetralisir asam yang dikeluarkan meselium jamur yang juga bisa menyebabkan pH media menjadi rendah.

Alat dan Bahan
Untuk membudidayakan jamur tiram, diperlukan alat dan bahan sebagai berikut :
·         Kompor minyak tanah
·         Drum berdiameter 80 cm, tinggi 96 cm
·         Rak, dengan luas 3m²
·         pH meter
·         Thermometer
·         Sprayer / penyemprot, dengan pipa paralon 2 inci sebanyak 300 buah
·         Cincin
·         Lampu spirtus, dengan volume 30 liter
·         Baskom plastic
·         Sekpo
·         Serbuk kayu albasia sebanyak 10,5 kg
·         Dedak halus sebanyak 21 kg
·         Tepung jagung sebanyak 0,6 kg
·         TSP murni 1 kg
·         Kapur 3 buah
·         Bibit jamur F3 sebanyak 3 buah
·         Alcohol 95% sebanyak 1 liter
·         Kantung plastic transparan (20x35x0,5)  cm sebanyak 300 buah
·         Kertas roti 10 x 10 sebanyak 300 buah
·         Karet gelang tahan panas 600 buah
·         Air sumur 30 liter

2.    Syarat Tumbuh Jamur Tiram
IKLIM
a.    Temperature
Serat (miselium) jamur tiram putih tumbuh dengan baik pada kisaran suhu antara 23-28 °C, artinya kisaran temperature normal untuk pertumbuhannya.  Waluapun begitu, dengan temperature di bawah 23 °C, miselium jamur masih dapat tumbuh meskipun memerlukan waktu yang lebih lambat.
Sedangkan untuk pertumbuhan tubuh buahnya yang bentuk seperti cangkang tiram, memerlukan kisaran suhu antara 13-15 °C selama 2 samapai 3 hari.
Bila nilai temperature rendah tersebut tidak didapatkan, maka ada dua kemungkinan yang terjadi, yaitu pertumbuhan tumbuh buah jamur tidak akan terbentuk, yang berarti pemeliharaan tidak berhasil, atau walaupun terbentuk maka waktu yang diperlukan akan lama. Tetapi walaupun demikian fase kedua jamur tiram putih tersebut masih dapat tumbuh pada rentang suhu 12-37,8 °C.


b.    Kelembapan
Kandungan air di dalam subtract sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan miselium jamur. Terlalu sedikit air akan mengakibatkan pertumbuhan dan perkembangan akan terganggu, bahkan terhenti sama sekali. Namun, apabila terlalu banyak air, miselium akan membusuk dan mati. Kandungan air didalam subtract tanaman akan didapat dengan baik bila dilakukan penyiraman.  Jamur tumbuh baik dalam keadaan yang lembab, tetapi tidak menghendaki genangan air. Miselium jamur tiram tumbuh optimal pada subtract yang memiliki kandungan air sekitar 60%. Sedangkan untuk merangsang pertumbuhan tunas dan tubuh buah, memerlukan kelembapan udara sekitar 70-85%.

c.    Cahaya
Miselium jamur tiram putih tumbuh optimal pada keadaan gelap. Sebaliknya, tubuh buah jamur tidak dapat tumbuh pada tempat gelap. Cahaya diperlukan untuk merangsang pertumbuhan tubuh buah. Tangkai jamur akan tumbuh kecil dan tudung tumbuh abnormal bila saat pertumbuhan primordial tidak memperoleh penyiraman.
Akan tetapi, cahaya matahari yang menembus secara langsung dapat merusak dan menyebabkan kelayuan, serta ukuran tudung yang relative kecil. Pertumbuhan jamur hanya akan memerlukan cahaya yang bersifat menyebar. Oleh karena itu, diperlukan peneduh pohon di dekat bangunan tempat pemeliharaan jamur.

d.    Udara
Jamur tiram putih adalah tanaman saprofit fakultatif aerobic yang membutuhkan oksigen sebangai senyawa untuk pertumbuhannya. Sirkulasi udara yang lancer akan menjamin pasokan oksigen. Terbatasnya pasokan oksigen udara disekitar tempat tumbuh jamur dapat mengganggu pertumbuhan tubuh buah.
Jamur tiram juga yang tumbuh pada tempat yang kekurangan oksigen memiliki tubuh buah kecil dan abnormal. Tubuh buah jamur yang tumbuh pada tempat yang kekurangan oksisgen akan mudah layu  dan mati. Jamur tiram juga memerlukan sirkulasi udara segar untuk pertumbuhannya. Oleh karena itu, harus diberi ventilasi agar pertukaran udara dapat berjalan secara baik.
Pertumbuhan miselium jamur memerlukan kandungan karbon dioksida yang agak tinggi, yaitu 15%-20%. Tetapi, jamur tiram yang tumbuh pada tempat yang mengandung karbo dioksida yang terlalu tinggi memiliki tubuh buah yang abnormal. Biasanya, tudung jamur tiram tumbuuh relative kecil dibandingkan tangkainya.

e.    Derajat Keasaman (pH)
Miselium jamur tiram putih tumbuh optimal pada pH media yang sedikit asam, yaitu antara 5,0-6,5. Nilai pH medium diperlukan untuk produksi metabolism dari jamur tiram putih, seperti produksi asam organic.
Kondisi asam dapat menyebabkan pertumbuhan miselium jamur tiram terganggu, tumbuh kontaminasi oleh jamur lain, bahkan menimbulkan kematian jamur tiram putih. Kondisi pH yang terlalu tinggi (basa), dapat menyebabkan system metabolism dari jamur tiram putih tidak efektif. Bahkan, menyebabkan kematian. Tubuh buah jamur tiram tumbuh optimal pada pH lingkungdn yang mendekati normal (pH 6,8-7,0).

B.   PENANAMAN DAN PEMELIHARAAN JAMUR TIRAM
Salah satu penentu keberhasilan budidaya jamur tiram adalah kebersihan dalam melakukan proses budidayanya, baik kebersihan tempat, alat, maupun pekerjanya. Hal ini karena kebersihan adalah hal yang mutlak harus dipenuhi. Untuk itu, tempat untuk penanaman sebaiknya harus dibersihkan dahulu dengan sapu, lantai dan dindingnya dibersihkan menggunakan disinfektan. Alat yang digunakan untuk menanam juga harus disterilisasi menggunakan alkohol dan dipanaskan di atas api lilin. Selain itu, selama melakukan penanaman para pekerja juga idealnya menggunakan masker. Hal ini bertujuan untuk memperkecil terjadinya kontaminasi.
Dalam budidaya jamur tiram hal yang juga harus diperhatikan adalah menjaga suhu dan kelembaban ruang agar tetap pada standar yang dibutuhkan. Jika cuaca lebih kering, panas, atau berangin, tentu akan mempengaruhi suhu dan kelembaban dalam kumbung sehingga air cepat menguap. Bila demikian, sebaiknya frekuensi penyiraman ditingkatkan. Jika suhu terlalu tinggi dan kelembaban kurang, bisa membuat tubuh jamur sulit tumbuh atau bahkan tidak tumbuh. Oleh karena itu, atur juga sirkulasi udara di dalam kumbung agar jamur tidak cepat layu dan mati.
Pengaturan sirkulasi dapat dilakukan dengan cara menutup sebagian lubang sirkulasi ketika angin sedang kencang. Sirkulasi dapat dibuka semua ketika angin sedang dalam kecepatan normal. Namun, yang terpenting adalah jangan sampai jamur kekurangan udara segar.
1.    PEMBUATAN JAMUR TIRAM
Adapun proses pembuatan jamur tiram adalah sebagai berikut
a.    Serbuk gergaji dipilih dan dibersihkan. Bagian yang besar dan tajam dibuang karena dapat merusak plastic substrat.
b.    Bahan yang sudah ada dicampur sesuai komposisi takaran dalam jolang / baskom plastic. Aduk sampai merata, jangan sampai ada gumpalan-gumpalan. Adapun bahan yang dicampurkan untuk menghasilkan 100 log adalah sebagai berikut :
Serbuk gergaji atau ampas tebu halus 10,5 kg
•   Tepung jagung 0,6 kg
•    Dedak halus 21 kg
•    TSP 1 kg
•    Kapur 3 buah Beri air secukupnya, dengan kandungan air 60% dan pHmedia diukur.
c.    Campuran bahan dimasukan ke dalam plastic transparan dengan ukuran 20 x 35 cm dan tebal 0,5. Media harus dipadatkan agar terbentuk log yang baik. Media yang bagus adalah kepadatannya merata. Jangan lupa, ujung plastic bagian bawah ditusuk jari telunjuk supaya masak. Hal ini dilakukan agar bahan yang dimasukkan dan dipadatkan bisa duduk posisinya (tidak miring). Pengisian dilakukan tidak terlalu penuh, tapi disisakan 15 cm untuk memudahkan dalam mengikat.
d.    Tiap log ditimbang beratnya, yaitu sebanyak 1,2 kg.
e.    Sisa ujung plastic ke dalam cincin dilipat keluar, lalu diikat mulut plastic tersebut dengan karet tahan panas.
f.     Tutup mulut log tersebut dengan kapaskemudian tutup lagi dengan kertas, lalu diikat lagi dengan karet.
g.    Dilakukan pengukusan terhadap log media selama 12 jam.
h.    Lamanya pengukusan dihitung setelah air di dalam drum mendidih.
i.      Setelah selesai pengukusan, media di angkat dari drum. Lalu, biarkan selama 8 jam atau sampai dingin pada ruangan yang tertutup. Untuk selanjutnya, dilakukan penanaman bibit.
j.      Setelah media dingin, baru dilakukan penanaman bibit, caranya:
·         Penanaman bibit dilakuan di ruangan tertutup
·         Semprot isi ruangan dengan alcohol 95%
·         Gunakan sarung sarung tangan dan semprot dengan alcohol 95%
·         Untuk memudahkan penanaman bibit, media yang akan diinokulasi disimpan di depan dekat tangan kiri. Bibit yang akan ditanamkan disimpan di depan dekat tangan kanan. Antara media yang akan ditanami dan bibit, disimpan lampu spirtus.
·         Buka karet, kertas penutup, serta kapas penutup media.
·         Masukkan 3 sendok makan bibit untuk satu log media.
·         Setiap gerakan sendok yang dipakai, dipanaskan dengan api dari lampu spirtus.
·         Media yang sudah ditanami bibit tersebut ditutup kembali dengan kapas.
·         Penanaman bibit dikerjakan dengan cepat, tetapi harus teliti.
k.    Media yang sudah ditanami bibit disimpan di atas rak.
l.      Biarkan sampai seluruh media diisi miselium jamur.
m.   Miselium tumbuh memenuhi log media. Setelah seluruh log media ditumbuhi miselium, tutup kapas dan cincin pada bagian atas log tersebut dibuka.
n.    Kelembapan lingkungan dipertahankan dengan menyemprot menggunakan sprayer.
o.    Tubuh buah yang sudah cukup mekar dapat dipanen.

2.    Pengendalian Hama Penyakit Pada Budidaya Jamur Tiram

Selain pemeliharaan baglog, dalam budidaya jamur tiram juga perlu dilakukan perawatan untuk mencegah atau mengendalikan hama dan penyakit yang mungkin bisa menyerang jamur tiram. Hama dan penyakit yang menyerang jamur tiram tentu dipengaruhi oleh keadaan lingkungan maupun jamur itu sendiri. Sehingga antara tempat budidaya yang satu dan yang lain, serangan hama penyakit kemungkinan dapat berbeda-beda.
a.    hama penyakit jamur tiram
1)    Ulat
Ulat merupakan hama yang paling banyak ditemui dalam budidaya jamur tiram. Ada tiga faktor penyebab kemunculan hama ini yaitu faktor kelembaban, kotoran dari sisa pangkal/bonggol atau tangkai jamur dan jamur yang tidak terpanen, serta lingkungan yang tida bersih.
Hama ulat muncul ketika kelembaban udara berlebihan. Oleh sebab itu, hama ulat sering dijumpai ketika musim hujan. Pencegahan menjadi solusi terbaik untuk mengatasi hama ini adalah dengan mengatur sirkulasi udara. Caranya dengan membuka lubang sirkulasi dan untuk sementara proses penyiraman keumbung dihentikan.
Pangkal jamur yang tertinggal di baglog saat pemanenan dapat menimbulkan binatang kecil seperti kepik. Kepik inilah yang menjadi penyebab munculnya hama ulat. Sementara jamur yang tidak terpanen kemungkinan terjadi karena jamur tidak muncul keluar sehingga luput saat pemanenan dan menjadi busuk. Hal ini menyebabkan munculnya ulat. Sebaiknya, ketika melakukan pemanenan baglog telah dipastikan kebersihannya sehingga tidak ada pangkal atau batang dan jamur yang tidak terpanen.
Ulat bisa saja muncul karena rumah kumbung ataupun sekitar kumbung tidak berseih. Misalnya adanya kandang ternak atau tanaman di sekitar rumah kumbung. Untuk mencegah dan mengatasi serangan hama ulat, lakukan pembersihan rumah kumbung dan sekitar rumah kumbung dengan melakukan penyemprotan formalin.

2)    Semut, Laba-laba, dan Kleket (sejenis moluska)

Secara mekanis hama semut dan laba-laba dapat diatasi dengan membongkar sarangnya dan menyiramnya dengan minyak tanah. Sedangkan secara kemis hama tersebut dapat dikendalikan dengan penyemprotan insektisida. Cara ini merupakan cara terakhir dan usahakan untuk menghindari penggunaan insektisida jika serangan tidak parah karena produk jamur merupakan produk organik. Keuntungan jika pemberantasan hama serangga dilakukan dengan cara mekanis antara lain, dapat memangkas biaya selama perawatan dan juga ramah lingkungan. Sementara itu hama kleket kerap dijumpai pada mulut baglog. Untuk mengendalikannya juga dilakukan dengan cara mekanis, yaitu mengambilnya dengan tangan.

 

b.    Tumbuhnya Cendawan Atau Jamur Lain

Jamur lain yang kerap mengganggu jamur tiram adalah Mucor sp., Rhizopus sp., Penicillium sp., dan Aspergillus sp. pada substrat atau baglog. Serangan jamur-jamur tersebut bersifat patogen yang ditandai dengan timbulnya miselium berwarna hitam, kuning, hijau, dan timbulnya lendir pada substrat. Miselium-miselium tersebut mengakibatkan pertumbuhan jamur tiram terhambat atau bahkan tidak tumbuh sama sekali. Penyakit ini dapat disebabkan karena lingkungan dan peralatan saat pembuatan media penanaman kurang bersih atau karena lingkungan kumbung yang terlalu lembab. Untuk mengatasi penyakit ini, lingkungan dan peralatan ketika pembuatan media dan penanaman perlu dijaga kebersihannya. Kelembaban di dalam kumbung juga diatur agar tidak berlebihan. Penyakit ini dapat menyerang baglog yang sudah dibuka ataupun masih tertutup. Jika baglog sudah terserang maka harus segera dilakukan pemusnahan dengan cara dikeluarkan dari kumbung kemudian dibakar.
Tangkai Memanjang, Penyakit ini merupakan penyakit fisiologis yang ditandai dengan tangkai jamur memanjang dengan tubuh jamur kecil tidak dapat berkembang maksimal. Penyakit tangkai memanjang disebabkan karena kelebihan CO2 akibat ventilasi udara yang kurang sempurna. Agar tidak terserang penyakit ini harus dilakukan pengaturan ventilasi dalam kumbung seoptimal mungkin.

C.   Pasca Panen dan Panen
Pemanenan merupakan kegiatan budidaya yang selalu dinantikan oleh pelaku usaha. Untuk mendapatkan hasil yang optimal maka penanaman selama panen dan pasca panen harus dilakukan dengan baik.

1.    Waktu dan Cara Panen Jamur Tiram

Jamur tiram termasuk jenis tanaman budidaya yang memiliki masa panen cukup cepat. Panen jamur tiram dapat dilakukan dalam jangka waktu 40 hari setelah pembibitan atau setelah tubuh buah berkembang maksimal, yaitu sekitar 2-3 minggu setelah tubuh buah terbentuk. Perkembangan tubuh buah jamur tiram yang maksimal ditandai pula dengan meruncngnya bagian tepi jamur. Kriteria jamur yang layak untuk dipanen adalah jamur yang berukuran cukup besar dan bertepi runcing tetapi belum mekar penuh atau belum pecah. Jamur dengan kondisi demikian tidak mudah rusak jika dipanen. Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi ketika produk dipasarkan, misalnya keseragaman berat dan ukuran jamur tiram.

 

2.    Penanganan Pasca Panen Jamur Tiram

Penanganan yang dilakukan usai pemanenan jamur tiram bertujuan untuk menciptakan hasil akhir yang berkualitas sehingga sesuai dengan permintaan pasar. Berikut beberapa tahapan agar produk jamur tiram yang dihasilkan berkualitas baik.

3.    Penyortiran
Jamur yang telah dipanen harus segera dicuci dengan air bersih, kemudian bagian tubuh buahnya dipisahkan deri pangkalnya. Proses pencucian dan pemisahan ini penting untuk dilakukan karena bila selama proses budidaya petani menggunakan pestisida, biasaya racun pestisida akan mengendap pada bagian pangkal dan masih memungkinkan terdapat residu yang tertinggal pada tubuh buah. Setelah diyakini kebersihannya, proses sortasi dilakukan untuk mengelompokkan jamur tiram berdasarkan bentuk dan ukurannya. Hal ini bertujuan untuk memperoleh hasil yang seragam sehingga akan menarik minat konsumen saat dipasarkan.

D.   Pengemasan dan Pemasaran

1.    Pengemasan dan Transportasi Hasil Panen Jamur Tiram

Pengemasan jamur tiram segar biasanya menggunakan plastik kedap udara. Semakin sedikit udara yang ada di dalam plastik, jamur tiram semakin tahan lama untuk disimpan. Namun, idealnya penyimpanan dengan plastik kedap udara hanya dapat mempertahankan kesegaran jamur tiram selama 2-4 hari. Oleh karena itu, agar jamur tiram segar yang dijual tetap dalam kondisi baik, proses pengangkutan/transportasi tidak boleh terlalu lama dari proses pengemasannya. Seandainya jarak pengangkutan cukup jauh, sebaiknya alat transportasi dilengkapi dengan ruangan berpendingin.

Kemana Anda harus menjual hasil panen jamur tiram Anda? Sulit tidak melakukan pemasaran jamur tiram?
Dikarenakan kebutuhan dan pemenuhan akan jamur tiram masih tinggi seperti yang telah saya jelaskan pada beberapa postingan tentang jamur tiram, Anda tidak perlu takut jamur Anda tidak ada yang beli. Pemasaran yang termudah adalah dengan menjualnya ke pengepul (broker). Jamur tiram selalu dicari keberadaannya oleh pengepul terlebih apabila daerah Anda sudah tidak asing dengan budidaya jamur tiram. Saat ini harga yang diberikan pengepul kepada petani berkisar antara Rp 30.000 – Rp 40.000/kg.
Predikisi saya, harga jamur tiram bisa terus merangkak naik ke atas dikarenakan isu harga daging sapi yang masih mahal. Mengapa demikian, karena masyarakat cenderung beralih ke daging ayam dan jamur tiram sebagai alternatif pengganti daging sapi.
Namun jika Anda menginginkan harga yang lebih tinggi, Anda bisa mengolah hasil panen Anda menjadi produk olahan misalnya menjadi jamur tiram crispy yang harganya saat ini berkisar Rp 150.000/kg. Jika Anda memiliki link atau channel ke hotel-hotel atau restoran besar, Anda dapat menjual jamur Anda dengan harga yang lebih tinggi daripada ke pengepul, hanya saja Anda harus bisa menjaga kualitas dan kuantitas jamur tiram Anda dengan baik.




Analisa Usaha Tani Tomat

BAB I
PEMBAHASAN
1.1 PENGOLAHAAN TANAH
            Pengolahan tanah pertama dilakukan dengan system mengikis atau mencangkol tanah kemudian gulma di sekitar lahan itu akan diserakkan ke atas bedengan yang  akan di buat dengan lebar 90 cmdan tinggi bedengan 35 cm,setelah gulma di serakkan ke atas bedengan yang akan di buat kemudian  di siram dengan urin kelinci. Setelah itu akan di lakukan penutupan gulma ,,kemudian akan di berikan pupuk organik  seperti kompos.
Setelah kompos di taburkan akan di lakukan penutupan dengan tanah sampai merata  dan kemudian di tambah dengan pupuk dasar yang berupa Anorganik.Adapun pupuk dasar anorganik yang diberikan yaitu ;
            -Phonska
            -Kcl    
            -SP 36
            -Dolomit
            Setelah dilakukan penaburan pupuk dasar dibiarkan selama satu minggu  kemudian akan dilakukan pemasangan plastik mulsa yang berwarna hitam perak dengan panjang 680 m, lebar 90 cm. setelah mulsa terpasang di biarkan selama 3-4 hari dan di lakukan pelubangan plastic mulsa  dengan jarak 35 cm antar lubang dengan meggunakan kaleng susu yang telah dipanaskan .Dan setelah selesai pelubangan akan di lakukan penanaman.

1.2 SISTEM PENANAMAN
            Sebelum melakukan penanaman terlebih dahulu membuat persemaian bibit.Untuk memudahkan perawatan tempat penyemaian itu maka di lakukan di atas bilahan bambu ,,dan tanah yang digunakan untuk penyemain bibit berupa tanah yang bersih yang telah di ayak  dan di campur dengan kompos .Setelah media pembibitan selesai maka akan diberikan lubang sedalam 0,5 cm.dan dilakukan penyemaian biji 2/lubang.Bila bibit sudah berkecambah atau mempunyai umur  sekitar 20 hari makan akan dilakukan pemindahan ke lahan yang telah di siapkan .bibit yang akan di tanam terlebih dahulu di surtir (dipilih) dengan tujuan pertumbuhan tanaman  itu normal.

1.3 PEMELIHARAAN TANAMAN
            Pengendalian hama penyakit
Adapun hama yang menyerang tanaman tomat adalah :
1.      Kebul
 Gejala serangan hama kebul adalah membuat pucuk tanaman tomat kering.
2.      Penggerek buah
 gejala serangannya adalah membuat buah tomat menjadi berlubang dan mengeluarkan cairan dari dalam buah tersebut.
Adapun hama penyakit terhadap tanaman tomat tersebut adalah :
-Busuk daun (phythopthora infestan)
 gejala yang tampak pada tanaman tomat terserang penyakit jamur ini adalah sbb:
            1.pada buah terdapat bercak abu-abu kecoklatan .
            2.Daging buah busuk.
            3.Pada daun  terdapat bercak-bercak coklat kehitam-hitaman seperti cacar.
            4.Bercak hitam makin lama makin meluas.
            5.pada serangan lanjut daun mongering dan ada juga yang busuk.
-Penyakit layu bakteri
Gejal penyakit ini adalah:
            1.tanaman kelihatan layu.
2.pertumbuhan tanaman tidak sempurna ,biasanya tanaman tumbuh kerdil dan hidup merana.
3.Serangan penyakit yang berat dapat mengakibatkan tanaman menjadi mati.
-Penyakit bakteri (xanthomonas solanacearum)
Penyakit bakteri yang menyerang tanaman sayuran tomat adalah xanthomonas solanacearum yang gejalanya sbb:
1.bila tanaman dicabut kemudian batangnya di pijit akan keluar cairan seperti susu.
2.tanaman seluruhnya layu seperti tersiram air panas.
1.4 CARA PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT
            Pngendalian hama dan penyakit dilakukan berdasarkan cuaca atau iklim dan berdasarkan pengamatan ,pengendalian ini dengan menggunakan pestisida seperti:
1.curacceron
2.acrobat
3.sultrikop
4.octanil
5.tripia
6.antracol
7.score
            Dosis penyemprotan dalm satu hand spayer berkisar dengan air 12n liter/tangki yaitu dilihat dari serangan penyakit tersebut.Dan jugs dilskukan pemangkasan tunas dan daun yang di anggap tidak berfungsi .Sebelum tanaman tomat rebah maka di pasang tiang lanjaran dengan panjang tiang 2,5 meter dan jarak antar tiang 1 meter.Dengan pemasangan tali rapiah pertama dan seterusnya dengan jarak 35 cm ke atas.
1.5 PEMUPUKAN
            Pemupukan susulan antara barisan tanaman  yang sudah di buat pemupukan susulan dilakukan sesuai dengan penamatan dan tanda-tanda tanaman yang sudah membutuhkan unsur hara .pupuk susulan yang diberikan setelah tanaman berumur 20-25 hari  setelah tanam dan di lakukan pemupukan seterusnya 14 hari sekali. Adapun jenis pupuk yang digunakan :
            -Hitdrokompelex
            -RI bas
            -pathen kali butir
            Dosis pupuk yang digunakan adalah 1 gram/lubang  dalam sekali pemupukan susulan.setelah melakukan pemupukan susulan dengan cara menabur pupuk ke lubang ,setelah penaburan pupuk kemudian disiram, dengan air satu gelas aqua 220 ml.Penyiraman pupuk yang telah dilakukan dilat dari larutan pupuk ,bila pupuk belum larut maka penyiraman tetep akan di lakukan. Atau cara lain yang dapat di gunakan adalah dengan melarutkan pupuk terlebih dahulu ke dalam drum/tangki lalu di aduk dan kemudian baru di tuangkan pada lubang tanaman tanpa mengenai daun tanaman tomat ini.
1.6 PASCA PANEN
Tanaman tomat dapat di panen bila buah sudah masak 60%-70% ,pemanenan dilakukan 4 hari sekali.setelah di lakukan pemanenan maka di lakukan penyurtiran dengan membedakan besar buah .Setelah di sortir atau di pilah baru di masukkan kedalam kemasan atau wadah yang telah di siapkan .
Alat untuk pasca panen adalah:
-keranjang
-koran
-tali rapiah.

BAB II
 CONTOH USAHA TANI
CONTOH USAHA TANI YANG DI LAKUKAN OLEH SEORANG PETANI TOMAT
Karakteristik Petani:
Nama Petani:SUMARDJO
Alamat                        :Desa Paya Dedep,Kec Jagong Jeget Kab Aceh Tengah
Usia Petani  ;65 Tahun
Tanggungan Petani:
            Petani memiliki 4 tanggungan yang terdiri dari 3 anak dan 1 istri.Anak yang pertama mengemban pendidikan pekuliahan semester genap (8). Anak yang kedua dan yang ke tiga mengemban pendidikan SMA.
Komoditi :
            Komoditinya adalah tanaman tomat.
Luas lahan:
            Luas lahan yang di pakai adalah 0,5 hektar dengan 5 mulsa.
Produksi:
            Produksi total keseluruhan dari pertama panen hingga sekarang sudah mencapai kurang lebih 25 ton.
            Alasan saya mengambil sampel tanaman tomat karena tanaman ini juga memiliki peran yang sangat penting  dalam suatu usaha tani yang juga memiliki ke gunaan yang sangat penting pul adalam produksi makanan di dunia.




BAB III
ANALISI USAHA TANI TOMAT
Analisis Usaha Tani Tomat
(Luas 0,5/Setengah  Hektar)
I. Persiapan Lahan
A. Bahan
-  Dolomit                                1.000 kg@Rp150         Rp    150.000
-  Pupuk Kandang                             10.000 kg@Rp250         Rp 2. 500.000
-  Pupuk NPK                                      750 kg@Rp3.500         Rp 3.000.000
-  Pestisida alami untuk tanah                              9 kg@Rp8.500        Rp    100.000
-  Mulsa                                                5 rol@Rp400.000       Rp 2.000.000
                                                                                               
---------------Subtotal Rp 7.600.000
B. Tenaga Kerja
-  Pembersihan Lahan                         40HKP@Rp12.000      Rp   280.000
-  Pengolahan Tanah                          80HKP@Rp12.000      Rp   960.000
-  Perawatan Bedengan                     80 HKP@Rp12.000       Rp1.000.000
-  Pengapuran                                      5HKW@Rp10.000     Rp50.000
-  Penaburan Pupuk Kandang          18HKW@Rp10.000       Rp   180.000
-  Penaburan Pupuk Buatan                5HKW@Rp10.000      Rp   50.000
-  Pemasangan Mulsa                        24HKW@Rp10.000      Rp   240.000
                                                                                               
--------------Subtotal  Rp2.480.000
II. Pembibitan dan Persemaian
A.Bahan
-  Polibag                                                 8kg@Rp15.000        Rp  120.000
-  Benih                                                  5pak@Rp65.000       Rp  325.000
-  Sungkup Plastik                               37 mRp3.500               Rp  129.500
                                                                                                --------------Subtotal           Rp67.400
B. Tenaga Kerja
-  Semai                                            23HKW@Rp10.000       Rp  230.000
-  Pembuatan Lubang Tanam              5HKP@Rp12.000       Rp  60.000
-  Penanaman & Penyulaman                     20HKW@Rp10.000        Rp  200.000
                                                                                                -------------Subtotal           Rp  490.000
III. Pemeliharaan
A. Bahan
-  Ajir                                           11.000batang@Rp150        Rp1.650.000
-  Insektisida                                      10liter@Rp150.000       Rp1.500.000
-  Fungisida                                                 33kg@50.000       Rp1.650.000
-  Perekat Serangga                             5 liter@Rp120.000      Rp  600.000
-  Fungisida Hayati Patogen Tanah      5 kg@Rp50.000          Rp  250.000
-  Pupuk Daun                                     3 liter@Rp25.000        Rp  75.000
-  Zat Pengatur Tumbuh                     2 liter@Rp65.000        Rp  130.000
-  Rafia                                                                8 kg@Rp15.000       Rp  120.000
-  Herbisida                                          5 liter@Rp50.000        Rp  250.000
                                                                                                -------------Subtotal           Rp622.5000
B. Tenaga Kerja
-  Pemangkasan                             30 HKW@Rp10.000         Rp   300.000
-  Pasang Ajir                                  15 HKP@Rp12.000         Rp   180.000
-  Pupuk Susulan                           10 HKW@Rp10.000         Rp   100.000
-  Penyemprotan                              80 HKP@Rp12.000        Rp1.200.000
-  Panen & Pascapanen                               15 HKW@Rp10.000            Rp1.50.000
                                                        45 HKP@Rp12.000         Rp540.000
-  Mandor                                            4 bln@Rp500.000       Rp2.000.000
                                                                                               
--------------Subtotal  Rp4.570.000

IV. Peralatan        
-  Sprayer/alat semprot                                    3buah@Rp300.000     Rp   900.000
-  Ember                                             10buah@Rp10.000      Rp   100.000
-  Drum                                               3buah@Rp200.000     Rp   600.000
-  Gembor                                            2 buah@Rp50.000      Rp     100.000
-  Peti                                           700 buah@Rp4.000           Rp2.800.000
                                                                                               
--------------Subtotal  Rp4.500.000


V. Sewa Lahan/Musim                                                                        Rp500.000
VI. Saung/Gubuk                                                                                             Rp    500.000
            Total                Rp26.932.400
Populasi tanaman        : 13.000 batang
Produksi                      : 25 ton
Hasil Panen                 : 25.000 kg x Rp3.000
                                    : Rp75.000.000
Keuntungan           : Rp75.000.000–Rp26.932400 = Rp48.067.600
Catatan :   HKP = Hari Kerja Pria, HKW = Hari Kerja Wanita
              Penanaman dilakukan pertama kali, sehingga sarana produksi selain benih, pupuk, dan pestisida harus disediakan.